Oleh : Ema IF
Lupa dalam kajian teoritikal keilmuan bidang psikiatri adalah satu dari sekian proses yang terjadi pada otak dan korteks. Lupa dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk faktor fisiologis, psikologis, dan lingkungan. Perubahan fisiologis dan morfologis otak dapat menyebabkan lupa. Kelistrikan pada otak yang berlebih akan membuat stres, kecemasan dan depresi, beberapa informasi yang diolah dalam otak akan ikut menghilang atau terdistorsi. Penurunan aliran darah dalam otak dapat pula mengakibatkan lupa dan bahkan penyakit Alzheimer.
Beberapa waktu lalu, ada kolega kami yang terpaksa diangkat sebagian tempurung kepalanya, untuk dibenahi bagian otaknya yang mengalami benturan keras akibat kecelakaan. Sekitar tiga bulan tempurung kepala itu tersimpan di RS besar di kota Surabaya. Diantara waktu itu, kolega kami beberapa kali menjalani operasi.
Seluruh keluarga beranggapan jika sebut saja Melati didiagnosa melupakan seluruh anggota keluarganya karena efek tumbukan dengan badan jalan. Ini biasa disebut dengan Amnesia Pasca Trauma. Dia juga didiagnosis akan sangat mungkin mengalami penurunan fungsi otak yang menyebabkan cacat fisik seumur hidup, diantaranya tidak lagi bisa berjalan atau melakukan aktifitas normal sebagaimana mestinya. Ditambah lagi Melati mengalami koma beberapa waktu lamanya.
Dokter dan petugas medis berkali-kali memberikan petuah kesehatan, agar keluarga tetap sabar dengan segala kemungkinan, tetap semangat melakonkan ikhtiar dan tetap bersyukur atas keselamatan yang Allah SWT berikan. Tidak banyak pasien yang selamat dalam kondisi demikian.
Kajian psikatri tentang *lupa* dalam perspektif Islam termaktub dalam hadis dan ayat Al-Quran sebagaimana disebutkan dalam Surah Maryam (19):64: "Dan tidaklah Kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa." Ayat ini menegaskan sifat Tuhan yang Maha Ingat, berbanding terbalik dengan manusia yang memiliki sifat lupa.
Hadis Riwayat Imam Muslim: Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya umatku (pasti) terlupa. Maka barangsiapa lupa kepadaku (Muhammad) dan salatnya, hendaknya ia membaca 'La ilaha illallah'." Hadis ini merupakan pengakuan sifat lupa manusia dan memberikan cara mengatasinya dengan mengingat Allah.
Islam tidak hanya serta merta menuliskan dalam kutipan mengenai *lupa* namun juga memberikan solusi dan hikmah serta faedah mempelajarinya. Beberapa hadis, seperti riwayat Muslim tentang khusyu' dalam shalat, menekankan pentingnya fokus dan konsentrasi saat beribadah. Gangguan konsentrasi (psikologis) dan lupa bisa dikaitkan dengan ketidakkhusyu'an ini, akhirnya lupa hafalan atau bacaan shalat. Perintah *khusyuk* menjadi solusi perkara *lupa*.
Hadis, riwayat Tirmidzi tentang tawakkal, mendorong sikap berserah diri kepada Allah. Kecemasan yang berlebihan dapat dikaitkan dengan kurangnya tawakkal, berpotensi memengaruhi fokus dan ingatan. *Tawakkal* menjadi sangat urgen ketika seorang dihadapkan dengan masalah yang berujung menjadi *lupa*
Trauma dan gangguan memori menyebabkan pasien mengalami efek lupa sebagaimana disebutkan dalam konsep amnesia psikologis dalam Islam. Beberapa hadist, seperti riwayat Bukhari tentang kesabaran, menekankan pentingnya kesabaran menghadapi musibah. *Sabar* dapat membantu individu dengan trauma mengatasi dampak kejiwaan, termasuk gangguan memori.
Fokus (khusyuk), Kepasrahan, dan kesabaran yang diyakini mampu mengatasi lupa dibarengi dengan dzikir yang bermakna menggingat kekuasaan atas pencipta yang Maha Ingat.
Bagaimana nasib kolega kami saat ini. Atas ijin Allah dengan kecanggihan teknologi dan kepasrahan, kesabaran dan ikhtiar keluarga tiada henti Melati dinyatakan sembuh, tanpa cacat fisik dan mental. Saat ini Melati dapat beraktifitas sebagaimana biasa namun lebih sederhana dan ringan dibanding sebelumnya.
Bahkan, dia bisa menghafal nama panjang dan kelahiran keempat anak kami. Ketika saya bertanya pada suaminya, apa yang menjadi amalannya sehingga Allah SWT menyelamatkannya dari lupa? Suaminya berkata "Melati tidak pernah membebani saya sebagai suaminya, dan sabar dalam kehidupan berkeluarga" sungguh tamparan jiwa bagi kita kaum wanita. Wallahualam bissowaf